Budaya Sunda, Editorial, Era Digital, Kearifan Lokal, Teknologi, •

ngigelan-jaman-ulah-kabawa-ku-jaman

Seri Pedoman Hirup · 11 dari 15

Ngigelan jaman, ulah kabawa ku jaman adalah rumusan untuk menghadapi teknologi tanpa kehilangan ukuran. Menjadi Sunda di era digital tidak berarti menolak hal baru, tetapi mampu belajar, memilih, mengolah, dan menggunakan teknologi tanpa menyerahkan seluruh perhatian, identitas, serta keputusan hidup kepadanya.

Dulu orang tua khawatir anak terlalu lama menonton televisi. Kini satu gawai dapat menjadi televisi, perpustakaan, ruang kelas, pasar, studio, kantor, permainan, dan pintu menuju kecerdasan buatan—semuanya sekaligus.

Larangan sederhana menjadi semakin tidak cukup. Yang lebih penting adalah belajar mempunyai ukuran: kapan teknologi membantu, kapan ia mulai mengambil terlalu banyak perhatian, dan kapan kita perlu berhenti.

Dalam satu generasi, ruang hidup manusia berubah sangat cepat. Percakapan pindah ke aplikasi pesan. Belanja pindah ke marketplace. Belajar masuk ke video dan platform digital. Karya seni tersebar melalui media sosial. Bahkan kecerdasan buatan mulai menjadi alat untuk menulis, mencari informasi, menerjemahkan, mendesain, dan bekerja.

Pertanyaannya bukan lagi apakah teknologi akan hadir. Teknologi sudah hadir. Pertanyaan yang lebih penting ialah: urang rék maké téknologi, atawa hirup urang anu bakal diatur ku téknologi?

Ngigelan Jaman: Membaca Zaman dengan Ukuran

Frasa “ngigelan jaman, ulah kabawa ku jaman” dalam seri ini merupakan rumusan editorial Rumah Cermat. Ia bukan diklaim sebagai satu ungkapan yang dikutip langsung dari Ensiklopedia Ki Sunda.

Dasar pemikirannya justru kuat di dalam ensiklopedia: Sunda digambarkan bukan sebagai entitas yang beku atau tertutup. Ia terus bergerak melalui perjumpaan dengan India, Islam, kolonialisme, negara modern, kapitalisme, teknologi, dan dunia global.

Ensiklopedia menekankan bahwa yang penting bukan mencari Sunda yang steril dari pengaruh luar, melainkan memahami bagaimana pengaruh itu ditafsirkan, diserap sebagian, ditolak sebagian, dan diolah menjadi bentuk kehidupan yang khas.

Pembedaan sumber: keterbukaan Sunda terhadap teknologi, perubahan, media, dan pengaruh global bersumber dari Ensiklopedia Ki Sunda. Frasa “ngigelan jaman, ulah kabawa ku jaman” serta model penerapannya pada gawai, kecerdasan buatan, privasi, dan kebiasaan digital adalah adaptasi praktis Rumah Cermat.
Ilustrasi keluarga Sunda menggunakan laptop dan teknologi digital sambil menjaga bahasa, keterampilan, kearifan lokal, dan jati diri.
Ilustrasi editorial Rumah Cermat tentang teknologi, pembelajaran, dan jati diri Sunda di era digital.
Ensiklopedia Ki Sunda menjadi sumber utama seri ini. Artikel ke-11 terutama merujuk Jilid 3 tentang teknologi, industri, transportasi, seni, media, dan transformasi budaya.

Sunda Tidak Pernah Hidup dalam Ruang yang Steril

Gambaran Sunda sebagai budaya yang harus “murni” dan bebas dari pengaruh luar justru tidak sesuai dengan pembacaan ensiklopedia.

Tatar Sunda tumbuh melalui perjumpaan. Teknologi perkapalan, perdagangan lintas wilayah, alat musik, bahan impor, agama, bentuk pemerintahan, seni urban, radio, televisi, dan media digital semuanya menunjukkan perubahan.

Dalam kesenian, misalnya, Jilid 3 membahas bagaimana unsur tradisional dapat bertemu budaya populer dan visual global. Estetika Sunda kontemporer bahkan dipahami sebagai ruang negosiasi: terbuka pada unsur baru, tetapi tetap berusaha mempertahankan ciri lokal.

Jati diri yang hidup bukan jati diri yang menolak perubahan, melainkan yang mampu memilih apa yang layak dibawa masuk. Adaptasi praktis Rumah Cermat

Teknologi Bukan Sesuatu yang Baru bagi Sunda

Jilid 3 memperlihatkan berbagai bentuk teknologi dalam perjalanan masyarakat Sunda: pengolahan logam oleh panday, teknologi kapal, perkakas, jaringan transportasi, pengolahan komoditas, hingga adopsi teknik dan bahan dari luar.

Pelajaran pentingnya bukan meniru teknologi masa lalu. Yang lebih relevan adalah melihat bahwa belajar teknologi dari luar tidak otomatis menghapus identitas lokal.

Pertanyaan yang perlu diajukan adalah: apakah teknologi tersebut bermanfaat, apa risikonya, siapa yang diuntungkan, apa yang hilang, dan bagaimana kita mengolahnya agar sesuai kebutuhan.

Identitas Lokal-Global: Sunda Bisa Berbicara kepada Dunia

Pada pembahasan seni pertunjukan abad ke-21, Ensiklopedia Ki Sunda mencatat digitalisasi melalui media sosial dan YouTube. Seniman muda menggunakan platform digital untuk membuat konten kreatif dan membangun identitas Sunda yang bersifat lokal-global atau glocal identity.

Tradisi lisan juga bergerak ke medium baru. Dongeng hadir di kanal digital, wayang golek masuk televisi dan YouTube, sementara bentuk humor Sunda berpindah dari panggung, radio, dan televisi ke media sosial.

Ini memperlihatkan bahwa pelestarian tidak selalu berarti mempertahankan medium lama. Yang dapat dipertahankan adalah cerita, bahasa, rasa, nilai, serta kemampuan mengolahnya dalam medium yang dipahami generasi baru.

Bahasa Lama, Medium Baru Bahasa Sunda dapat hadir dalam video pendek, podcast, permainan, aplikasi, dan media pembelajaran.
Cerita Lama, Bentuk Baru Dongeng dan sastra lisan dapat diterjemahkan menjadi animasi, audio, komik digital, atau dokumentasi keluarga.
Keterampilan Lokal, Pasar Baru Kerajinan, kuliner, seni, dan pengetahuan lokal dapat diperkenalkan melalui kanal digital.
Identitas Lokal, Percakapan Global Menjadi terbuka pada dunia tidak harus berarti meninggalkan akar.

Dari Konsumen Teknologi menjadi Pengguna yang Produktif

Pedoman Hirup Urang Sunda Abad ke-21 menerjemahkan teknologi sebagai alat untuk menciptakan, mengukur, menyimpan, menghubungkan, dan memecahkan masalah.

Karena itu, keluarga tidak perlu memandang teknologi semata-mata sebagai ancaman. Tantangannya adalah menggeser penggunaan dari konsumsi pasif menuju penggunaan produktif.

  • menggunakan internet untuk belajar keterampilan baru;
  • membuat karya, bukan hanya menonton karya orang lain;
  • menggunakan teknologi untuk menjalankan usaha;
  • mendokumentasikan sejarah keluarga dan cerita orang tua;
  • menyimpan kosakata, lagu, resep, atau tradisi lokal secara digital;
  • menggunakan peta dan data untuk memahami lingkungan;
  • berkomunikasi dan bekerja sama lintas wilayah.

Bagaimana dengan Kecerdasan Buatan?

Kecerdasan buatan adalah salah satu teknologi baru yang dapat diperlakukan dengan prinsip yang sama: tidak perlu ditolak hanya karena baru, tetapi juga tidak perlu diterima tanpa ukuran.

Dalam konteks pendidikan dan keluarga, AI dapat dipakai untuk membantu mencari ide, merangkum bahan, menerjemahkan, berlatih bahasa, menyusun struktur tulisan, atau membantu pekerjaan teknis. Namun hasilnya tetap perlu diperiksa.

  • jangan menganggap jawaban AI selalu benar;
  • periksa sumber untuk informasi penting;
  • jangan memasukkan data pribadi atau rahasia sembarangan;
  • gunakan AI untuk membantu berpikir, bukan menggantikan seluruh proses berpikir;
  • bedakan karya sendiri, bantuan alat, dan sumber yang digunakan bila konteks menuntut transparansi.

Prinsipnya tetap sama: teknologi harus memperbesar kemampuan manusia, bukan mengurangi kemanusiaan.

Ulah Sakahayang di Ruang Digital

Kemampuan teknologi sering lebih cepat berkembang daripada kebiasaan etikanya. Kita dapat merekam, menyalin, menyebarkan, mengomentari, dan meneruskan informasi hanya dalam beberapa detik.

Tetapi kemampuan teknis tidak otomatis menjadi izin moral. Pedoman Hirup menerapkan prinsip ulah sakahayang ke ruang digital: hanya karena sesuatu bisa dilakukan, bukan berarti semuanya pantas dilakukan.

Privasi Tidak semua foto, percakapan, alamat, dokumen, atau data orang lain boleh dibagikan.
Kebenaran Informasi perlu diperiksa sebelum diteruskan.
Waktu Kemampuan terhubung terus-menerus tidak berarti manusia harus selalu online.
Martabat Kritik tidak harus berubah menjadi penghinaan atau perundungan.

Perhatian adalah Sumber Daya

Salah satu risiko teknologi digital adalah hilangnya kemampuan memilih ke mana perhatian diberikan. Notifikasi, video pendek, rekomendasi algoritmik, dan percakapan yang tidak berhenti dapat membuat manusia terus bereaksi.

Karena itu, menjaga jati diri juga berarti menjaga perhatian. Apa yang terus dilihat, didengar, dan dibaca perlahan membentuk bahasa, selera, kebiasaan, serta cara berpikir.

Ulah nepi ka alat anu sakuduna dipaké ku urang, malah unggal poé ngatur waktu jeung perhatian urang. Rumusan praktis Rumah Cermat

Bahasa Sunda di Era Digital

Bahasa merupakan salah satu arsip cara berpikir yang ditekankan dalam kerangka Ensiklopedia Ki Sunda. Karena itu, ruang digital dapat menjadi ancaman sekaligus peluang bagi bahasa Sunda.

Bahasa dapat semakin jarang digunakan bila seluruh ruang digital keluarga hanya memakai bahasa lain. Tetapi medium yang sama juga dapat dipakai untuk memperluas penggunaannya.

  • rekam cerita aki-nini dalam bahasa Sunda;
  • buat daftar kosakata keluarga yang mulai jarang dipakai;
  • gunakan bahasa Sunda dalam sebagian pesan keluarga;
  • buat konten pendidikan atau cerita pendek berbahasa Sunda;
  • digitalisasi resep, dongeng, lagu, atau sejarah kampung dengan konteks yang jelas.

Pelestarian akan lebih kuat ketika bahasa dipakai untuk kehidupan nyata, bukan hanya ditampilkan ketika ada acara budaya.

Anak Sunda Tidak Harus Takut Menjadi Modern

Tidak ada pertentangan otomatis antara identitas Sunda dan kemampuan modern. Anak Sunda dapat belajar bahasa asing, pemrograman, kecerdasan buatan, ilmu pengetahuan, desain, bisnis global, atau bekerja lintas negara.

Yang perlu dijaga ialah kemampuan bertanya: apa yang dipelajari, untuk apa digunakan, nilai apa yang tetap dijaga, dan manfaat apa yang dihasilkan?

Identitas yang kuat bukan identitas yang rapuh terhadap pengaruh baru. Ia mampu berinteraksi, belajar, memilih, dan tetap mengetahui dari mana berpijak.

Keluarga Perlu Memiliki Aturan Digital, Bukan Sekadar Larangan

Larangan total sering sulit bertahan karena teknologi sudah menjadi bagian dari pendidikan, pekerjaan, komunikasi, dan hiburan. Karena itu keluarga lebih membutuhkan kesepakatan penggunaan.

  • kapan gawai boleh dan tidak boleh digunakan;
  • ruang mana yang perlu bebas layar;
  • data apa yang tidak boleh dibagikan;
  • bagaimana memeriksa informasi;
  • bagaimana bersikap ketika menerima pesan yang membuat marah;
  • apa yang harus dilakukan bila menemukan konten yang membuat tidak nyaman;
  • bagaimana menyeimbangkan konsumsi dengan belajar dan berkarya.

Audit Digital Keluarga 7 Hari

Ngigelan Jaman tanpa Kabawa ku Jaman

Rumah Cermat untuk menilai apakah teknologi benar-benar membantu kehidupan keluarga.

  1. Catat penggunaan utama. Selama sehari, perhatikan untuk apa gawai paling banyak digunakan.
  2. Pisahkan konsumsi dan produksi. Berapa waktu untuk menonton, dan berapa waktu untuk belajar, bekerja, atau membuat sesuatu?
  3. Matikan satu gangguan. Nonaktifkan notifikasi yang tidak penting.
  4. Buat satu zona bebas gawai. Misalnya meja makan atau satu jam menjelang tidur.
  5. Periksa privasi. Tinjau apa saja data keluarga yang sudah dibagikan secara publik.
  6. Buat satu karya digital. Dokumentasikan cerita keluarga, bahasa Sunda, resep, foto lama, atau pengetahuan lokal.
  7. Evaluasi. Tanyakan: teknologi minggu ini lebih banyak membantu kemampuan atau menghabiskan perhatian?

Yang Perlu Dihindari

  • menganggap semua yang baru otomatis lebih baik;
  • menolak teknologi hanya karena berasal dari luar;
  • menggunakan teknologi tanpa memahami risiko privasi dan keamanan;
  • menyebarkan informasi hanya karena sesuai dengan keyakinan sendiri;
  • menjadikan budaya sekadar dekorasi konten tanpa memahami maknanya;
  • membiarkan waktu, tidur, hubungan keluarga, dan perhatian terus dikendalikan layar;
  • menganggap kemampuan memakai aplikasi sama dengan kemampuan berpikir.

Modern, tetapi Tetap Mempunyai Ukuran

Ensiklopedia Ki Sunda memperlihatkan budaya Sunda sebagai sesuatu yang hidup: berjumpa, berubah, menyerap, menolak, dan mengolah pengaruh baru. Media berubah, teknologi berubah, bentuk ekspresi berubah.

Karena itu, menjadi Sunda di era digital tidak menuntut seseorang memilih antara tradisi dan masa depan. Yang dibutuhkan adalah kemampuan membawa ukuran ke dalam perubahan.

Ngigelan jaman, ulah kabawa ku jaman. Mengikuti perkembangan tanpa kehilangan ukuran — rumusan editorial Rumah Cermat

Gunakan teknologi untuk memperbesar ilmu, kabisa, karya, usaha, hubungan, dokumentasi budaya, dan manfaat. Tetapi tetap jaga privasi, waktu, rasa, kebenaran, martabat, serta kemampuan berpikir sendiri.

Dengan begitu, modernitas tidak harus berarti kehilangan diri. Sunda dapat berangkat dari lemah-cai sendiri sekaligus berbicara kepada dunia.

Sumber Utama

  1. Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Provinsi Jawa Barat. (2025). Ensiklopedia Ki Sunda Jilid 3: Kajian Pembangunan Lingkungan Berkelanjutan Berbasis Kearifan Lokal Sunda. Digunakan terutama untuk pembahasan teknologi, industri, transportasi, keterbukaan Sunda terhadap pengaruh luar, transformasi estetika, media digital, dan identitas lokal-global.
  2. Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Provinsi Jawa Barat. (2025). Ensiklopedia Ki Sunda Jilid 2: Kajian Pembangunan Lingkungan Berkelanjutan Berbasis Kearifan Lokal Sunda. Menjadi acuan pendukung untuk bahasa, pendidikan, pembentukan rasa, dan hubungan kehidupan modern dengan nilai sosial Sunda.
  3. Pedoman Hirup Urang Sunda Abad ke-21, ringkasan-terapan Rumah Cermat. Digunakan untuk rumusan “ngigelan jaman tanpa kabawa ku jaman”, teknologi sebagai alat produksi dan ilmu, batas digital, serta penerapan praktis pada keluarga.
Catatan Editorial Rumah Cermat Pembahasan tentang keterbukaan Sunda terhadap perubahan, teknologi, digitalisasi seni, media sosial, YouTube, tradisi yang berpindah medium, serta identitas lokal-global bersumber dari Ensiklopedia Ki Sunda Jilid 3. Frasa “ngigelan jaman, ulah kabawa ku jaman”, audit digital keluarga, penerapan pada kecerdasan buatan, aturan gawai, privasi, perhatian, dan penggunaan produktif merupakan adaptasi praktis Rumah Cermat untuk konteks abad ke-21.

Terima kasih telah meluangkan waktu untuk bernalar.