Hana nguni hana mangke mengingatkan bahwa kehidupan hari ini tidak berdiri sendiri. Anak yang mengenal asal keluarga, tempat, bahasa, dan perjalanan generasinya memiliki bahan yang lebih kaya untuk memahami siapa dirinya tanpa harus terjebak pada romantisasi masa lalu.
Banyak anak hari ini mengetahui nama pemain sepak bola, tokoh gim, kreator digital, atau merek teknologi dari berbagai negara. Tetapi tidak sedikit yang kesulitan menjawab pertanyaan sederhana: dari mana asal keluarga ayah dan ibunya? Siapa nama buyutnya? Bahasa apa yang digunakan kakek-neneknya? Mengapa kampungnya mempunyai nama tertentu?
Persoalannya bukan karena anak harus hidup seperti generasi terdahulu. Justru yang dibutuhkan adalah kesadaran tentang kesinambungan: memahami bahwa kehidupan sekarang mempunyai akar, sebab, perjalanan, dan warisan.
Apa Makna Hana Nguni Hana Mangke?
Pada bagian pengantar Ensiklopedia Ki Sunda Jilid 1, gagasan tentang hubungan masa lalu dan masa kini dirumuskan dengan sangat jelas melalui ungkapan: hana nguni hana mangke.
Dalam penjelasan ensiklopedia, leluhur Sunda memandang apa yang ada sekarang sebagai hasil dari perjalanan waktu yang panjang. Masa kini bukan sesuatu yang berdiri sendiri. Ia merupakan kelanjutan dari apa yang pernah ada sebelumnya. Gambaran yang dipakai bahkan sangat konkret: bila ada batang, ada tunggul yang menjadi asalnya.
Dengan cara pandang seperti ini, sejarah bukan sekadar daftar tahun, nama kerajaan, atau cerita tokoh masa silam. Sejarah menjadi cara untuk membaca hubungan sebab-akibat dalam kehidupan.
Ensiklopedia Ki Sunda Jilid 1 menjadi sumber utama pembahasan hana nguni hana mangke dalam artikel ini.
Mengapa Anak Perlu Mengenal Asal Keluarganya?
Mengenal asal keluarga bukan berarti mencari siapa yang paling tua, paling terpandang, atau paling “murni” secara budaya. Tujuannya jauh lebih sederhana dan lebih sehat: memberi anak konteks tentang perjalanan hidup yang mendahuluinya.
Ensiklopedia Ki Sunda Jilid 2 menjelaskan bahwa kekerabatan merupakan landasan utama pembentukan struktur sosial masyarakat Sunda, dengan keluarga atau kulawarga sebagai pusat kehidupan sosial, moral, dan keagamaan.
Relasi keluarga di dalam tradisi Sunda juga tidak dipahami semata sebagai hubungan biologis. Ia mengandung ikatan etis: bagaimana seseorang bersikap, mengambil keputusan, menghormati orang tua, menjaga kerabat, dan meneruskan nilai kepada generasi berikutnya.
Ensiklopedia juga menerangkan bahwa sistem kekerabatan Sunda bersifat bilateral: garis keluarga dari pihak ayah dan ibu sama-sama diakui. Karena itu, mengenalkan keluarga kepada anak sebaiknya tidak hanya berhenti pada satu garis keturunan.
Keluarga sebagai Sekolah Pertama
Bagian pendidikan dalam Ensiklopedia Ki Sunda Jilid 2 menempatkan keluarga sebagai lembaga pendidikan pertama. Orang tua, kakek-nenek, dan kerabat menjadi guru moral melalui pengalaman sehari-hari, nasihat, aturan lembut, dan keteladanan.
Pendidikan semacam ini tidak selalu berlangsung dalam bentuk pelajaran formal. Anak belajar ketika melihat bagaimana orang tuanya berbicara kepada orang yang lebih tua, bagaimana keluarga memperlakukan tamu, bagaimana kerabat membantu ketika ada yang sakit, atau bagaimana sebuah keluarga mengingat orang yang telah meninggal.
Di sinilah ungkapan hana nguni hana mangke menjadi sangat relevan bagi pendidikan anak. Apa yang dilakukan keluarga hari ini akan menjadi “masa lalu” yang dibaca anak pada masa depan.
Jati Diri Bukan Berarti Menolak Perubahan
Mengenal asal tidak sama dengan menutup diri. Tatar Sunda sendiri berkembang melalui banyak perjumpaan: agama, perdagangan, politik, pendidikan, teknologi, dan perubahan sosial.
Karena itu, jati diri yang sehat tidak harus membuat semua anak Sunda hidup dengan bentuk kehidupan yang sama. Ada yang tumbuh di kampung, kota besar, lingkungan pesisir, pegunungan, Cirebon, Priangan, Banten, Jakarta, bahkan di luar Indonesia.
Yang lebih penting adalah kemampuan menjaga kesinambungan: mengetahui dari mana kita datang, memahami perubahan yang terjadi, dan membawa nilai yang masih berguna ke dalam kehidupan baru.
Asal Keluarga Juga Berhubungan dengan Lemah-Cai
Dalam pembacaan Sunda, asal-usul tidak hanya berkaitan dengan silsilah. Ia juga berhubungan dengan tempat. Kampung, sungai, gunung, sawah, kebun, jalan, dan nama tempat menyimpan jejak perubahan.
Karena itu, mengajak anak mengenal asal keluarga dapat diperluas menjadi pengenalan terhadap lingkungan: dari mana air di kampung berasal, sungai apa yang mengalir di dekatnya, gunung apa yang menjadi orientasi, mengapa nama desa atau kecamatan tertentu muncul, serta bagaimana wilayah tersebut berubah.
Dengan demikian, identitas tidak hanya berbunyi “saya orang Sunda”, tetapi berkembang menjadi pengetahuan yang lebih konkret: saya mengetahui cerita keluarga dan ruang yang membentuk keluarga saya.
Apa Manfaatnya bagi Anak?
Dari sumber ensiklopedia dan penerapannya dalam pendidikan keluarga, setidaknya ada beberapa manfaat yang dapat dirumuskan.
- Membangun konteks diri. Anak memahami bahwa dirinya hadir dalam rangkaian hubungan dan perjalanan, bukan berdiri sendirian.
- Memperkuat hubungan antargenerasi. Cerita tentang aki, nini, buyut, atau kampung asal membuka ruang percakapan antara anak dan anggota keluarga yang lebih tua.
- Melatih kemampuan bertanya. Anak belajar menggali siapa, kapan, di mana, mengapa, dan bagaimana sebuah peristiwa keluarga terjadi.
- Membentuk sikap kritis terhadap warisan. Anak tidak hanya menerima tradisi, tetapi belajar memahami alasan, manfaat, serta konteksnya.
- Menghubungkan keluarga dengan lingkungan. Asal keluarga dapat menjadi pintu masuk mengenal kampung, bahasa, pangan, pekerjaan, alam, dan perubahan sosial.
Buat “Peta Asal Keluarga”
Tidak perlu memulai dengan silsilah yang sangat rumit. Mulailah dari satu lembar kertas, buku keluarga, atau dokumen digital sederhana.
- Tuliskan nama anak, orang tua, aki-nini, dan bila diketahui nama buyut.
- Catat kampung atau daerah asal masing-masing garis keluarga.
- Tuliskan bahasa atau ragam bahasa yang biasa digunakan dalam keluarga.
- Tambahkan satu makanan, pekerjaan, keterampilan, kebiasaan, atau cerita khas setiap cabang keluarga.
- Tandai sungai, gunung, laut, sawah, atau tempat penting yang berkaitan dengan daerah asal.
- Mintalah anak mewawancarai anggota keluarga yang lebih tua: “Apa yang paling berubah dari kampung dulu sampai sekarang?”
- Tutup kegiatan dengan satu pertanyaan: nilai apa dari keluarga kita yang ingin diteruskan?
Apa yang Sebaiknya Dihindari?
Mengajarkan asal-usul juga perlu dilakukan secara bijak. Ada beberapa jebakan yang sebaiknya dihindari.
- Jangan menggunakan silsilah untuk merasa lebih tinggi daripada keluarga atau kelompok lain.
- Jangan memaksa anak menerima semua kebiasaan lama tanpa penjelasan.
- Jangan menyembunyikan perubahan, perpindahan, atau keberagaman dalam sejarah keluarga.
- Jangan menjadikan identitas budaya sebagai alasan menutup diri dari ilmu dan pergaulan yang lebih luas.
Mengenal akar seharusnya menghasilkan kerendahan hati dan tanggung jawab, bukan kesombongan asal-usul.
Hana Mangke: Kita Sedang Menjadi Masa Lalu bagi Anak
Ada satu sisi lain dari hana nguni hana mangke yang sering luput. Jika kehidupan sekarang merupakan kelanjutan dari masa lalu, maka kehidupan kita hari ini juga sedang menciptakan masa lalu bagi generasi berikutnya.
Cara orang tua berbicara, menyelesaikan konflik, memperlakukan tetangga, menjaga lingkungan, bekerja, menggunakan uang, dan mendampingi anak suatu hari akan menjadi bagian dari ingatan keluarga.
Karena itu, mengenalkan asal keluarga tidak selesai pada pertanyaan “siapa leluhur kita?”. Pertanyaan berikutnya jauh lebih penting: keluarga seperti apa yang sedang kita bangun untuk dikenang oleh anak-cucu?
Sumber Utama
- Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Provinsi Jawa Barat. (2025). Ensiklopedia Ki Sunda Jilid 1: Kajian Pembangunan Lingkungan Berkelanjutan Berbasis Kearifan Lokal Sunda. Digunakan terutama untuk pembahasan filsafat sejarah hana nguni hana mangke, kesinambungan masa lalu–masa kini, serta hubungan manusia dengan ruang dan Tatar Sunda.
- Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Provinsi Jawa Barat. (2025). Ensiklopedia Ki Sunda Jilid 2: Kajian Pembangunan Lingkungan Berkelanjutan Berbasis Kearifan Lokal Sunda. Digunakan untuk pembahasan kekerabatan Sunda, keluarga sebagai pusat kehidupan sosial-moral, sistem kekerabatan bilateral, serta keluarga sebagai ruang pendidikan pertama.
- Danasasmita, Saleh, dkk. (1987), sebagaimana dikutip dalam Ensiklopedia Ki Sunda Jilid 1, hlm. 4. Sumber yang dirujuk ensiklopedia untuk rumusan hana nguni hana mangke.
- Ekadjati, Edi S. (2017), sebagaimana dikutip dalam Ensiklopedia Ki Sunda Jilid 1, hlm. 4. Digunakan ensiklopedia untuk penjelasan harfiah hubungan masa lalu dan masa kini dalam ungkapan tersebut.