Nilai dapat menunjukkan seberapa jauh seorang anak berhasil menjawab soal. Namun pendidikan memiliki tugas yang lebih besar: membentuk manusia yang mampu memahami persoalan, menimbang informasi, mengambil keputusan, dan mempertanggungjawabkan pikirannya.
Ada satu pemandangan yang sangat akrab dalam dunia pendidikan.
Ketika hasil ujian dibagikan, pertanyaan pertama yang muncul biasanya:
“Dapat berapa?”
Jarang kita mendengar pertanyaan seperti:
“Apa yang sekarang kamu pahami?”
“Bagaimana kamu sampai pada jawaban itu?”
“Kalau persoalannya berbeda, apakah cara berpikirmu masih dapat digunakan?”
Kita begitu terbiasa menggunakan angka untuk membaca keberhasilan belajar sampai-sampai angka sering dianggap sebagai tujuan belajar itu sendiri.
Padahal nilai adalah alat ukur, bukan tujuan akhir pendidikan.
Seorang peserta didik bisa memperoleh angka tinggi karena mampu mengingat prosedur, mengenali pola soal, atau menghafal informasi tertentu. Semua kemampuan tersebut tetap berguna. Tetapi kehidupan nyata jarang datang dalam bentuk pilihan A, B, C, atau D.
Di luar ruang ujian, manusia berhadapan dengan informasi yang saling bertentangan, persoalan yang tidak memiliki satu jawaban sederhana, keputusan yang membawa konsekuensi, serta perubahan sosial dan teknologi yang bergerak sangat cepat.
Nilai Penting, tetapi Tidak Cukup
Membicarakan keterbatasan nilai bukan berarti menolak ujian atau penilaian.
Asesmen tetap diperlukan. Guru membutuhkan informasi untuk melihat perkembangan peserta didik. Sekolah membutuhkan indikator untuk mengevaluasi pembelajaran. Peserta didik sendiri membutuhkan umpan balik agar mengetahui apa yang telah dikuasai dan bagian mana yang masih perlu diperbaiki.
Masalah muncul ketika nilai berubah dari alat menjadi tujuan.
Ketika seluruh proses belajar diarahkan hanya untuk memperoleh skor, kita berisiko menciptakan pembelajaran yang sangat efisien dalam melatih anak menjawab soal, tetapi kurang memberikan ruang bagi mereka untuk mempertanyakan, membandingkan, menyelidiki, dan memahami.
Paul Black dan Dylan Wiliam melalui kajian mengenai formative assessment menunjukkan pentingnya penggunaan asesmen sebagai bagian dari proses belajar. Informasi dari asesmen seharusnya membantu guru dan peserta didik menentukan langkah pembelajaran berikutnya, bukan semata-mata menghasilkan skor.
Angka memberi informasi penting, tetapi belum menjelaskan keseluruhan proses belajar.
Pertanyaan ini membawa pendidikan menuju pemahaman, penerapan, dan kemampuan bernalar.
Apa yang Dimaksud dengan Nalar?
Bernalar bukan sekadar menjadi anak yang pandai berbicara atau gemar berdebat.
Nalar bekerja ketika seseorang mampu memperoleh informasi, memeriksa bukti, membandingkan kemungkinan, serta menghasilkan kesimpulan yang dapat dijelaskan.
- Membedakan fakta dari asumsi dan pendapat.
- Mengenali hubungan sebab dan akibat.
- Mempertanyakan sumber suatu informasi.
- Membandingkan beberapa kemungkinan jawaban.
- Menilai kekuatan sebuah alasan atau argumentasi.
- Menarik kesimpulan berdasarkan informasi dan bukti.
- Bersedia memperbaiki kesimpulan ketika menemukan bukti yang lebih baik.
Dalam kerangka Asesmen Nasional Indonesia, nalar kritis juga ditempatkan sebagai salah satu dimensi karakter yang penting bagi peserta didik.
Dunia Tidak Lagi Kekurangan Informasi
Dahulu, salah satu tantangan pendidikan adalah keterbatasan akses terhadap pengetahuan. Hari ini persoalannya hampir berbalik.
Kita hidup dalam kelimpahan informasi.
Dalam hitungan detik, seorang anak dapat menemukan ribuan artikel, video, komentar, grafik, opini, dan jawaban melalui mesin pencari, media sosial, maupun kecerdasan buatan.
Karena itu, kemampuan menemukan informasi saja semakin tidak memadai. Yang menjadi jauh lebih penting adalah kemampuan menilai informasi tersebut.
OECD melalui kerangka PISA tidak memandang kompetensi sebagai kemampuan mengingat isi pelajaran semata. Asesmen juga melihat kemampuan menggunakan pengetahuan dan keterampilan dalam menghadapi konteks dan persoalan yang lebih luas.
Artinya, pendidikan tidak cukup menghasilkan anak yang mengetahui banyak hal.
Pendidikan perlu membantu anak mengetahui bagaimana memikirkan apa yang ia ketahui.
Menghafal dan Bernalar Bukan Musuh
Ada kesalahpahaman yang perlu diluruskan. Seruan untuk membangun nalar bukan berarti hafalan tidak diperlukan.
Kita tetap membutuhkan pengetahuan.
Mustahil seseorang berpikir kritis mengenai sejarah jika ia tidak memiliki pengetahuan sejarah. Sulit menilai suatu argumentasi ilmiah tanpa memahami konsep dasar sains. Bahkan kemampuan memecahkan persoalan matematika membutuhkan penguasaan fakta dan prosedur tertentu.
Pengetahuan adalah bahan bakar bagi penalaran.
Yang perlu dihindari adalah berhenti pada hafalan.
Peserta didik seharusnya bergerak dari mengetahui, memahami, menggunakan, menganalisis, menilai, hingga menciptakan.
Karena itu, pertanyaannya bukan: hafalan atau nalar?
Pertanyaan yang lebih tepat adalah: bagaimana pengetahuan yang diingat menjadi bahan untuk berpikir?
Pendidikan Kita Sendiri Tidak Pernah Bertujuan Sekadar Mencetak Nilai
Gagasan bahwa pendidikan harus lebih luas daripada prestasi akademik bukanlah sesuatu yang asing dalam sistem pendidikan Indonesia.
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menempatkan pendidikan dalam kerangka pengembangan kemampuan, pembentukan watak, pencerdasan kehidupan bangsa, serta berkembangnya potensi peserta didik.
Tujuan pendidikan mencakup dimensi keimanan, akhlak, kesehatan, ilmu, kecakapan, kreativitas, kemandirian, demokrasi, dan tanggung jawab.
Cakupan itu jauh lebih luas daripada sekadar capaian angka akademik.
Anak yang Selalu Mendapat Jawaban Bisa Kehilangan Kesempatan Belajar Berpikir
Kadang-kadang, tanpa disadari, orang dewasa terlalu cepat membantu.
Seorang anak bertanya, kita langsung menjawab. Ia mengalami kesulitan, kita segera menunjukkan caranya. Ia salah, kita segera membetulkan.
Semua dilakukan dengan niat baik.
Namun jika berlangsung terus-menerus, peserta didik dapat belajar satu pola:
“Kalau saya tidak tahu, tunggu saja orang dewasa memberikan jawabannya.”
Padahal momen kebingungan merupakan bagian penting dari belajar.
Guru tidak selalu harus menjadi orang pertama yang memberikan jawaban. Ada kalanya pertanyaan peserta didik lebih baik dijawab dengan pertanyaan lain.
Pertanyaan sederhana seperti ini memindahkan pusat pembelajaran dari guru memberikan jawaban menjadi peserta didik membangun pemahaman.
Guru tetap memegang peranan penting. Hanya saja perannya berkembang: bukan semata-mata sumber informasi, melainkan perancang pengalaman berpikir.
Nalar Tidak Tumbuh dari Satu Pelajaran
Kemampuan berpikir kritis bukan keterampilan yang selesai diajarkan dalam satu pertemuan bertajuk “Berpikir Kritis”.
Ia harus tumbuh menjadi kebiasaan.
Meta-analisis oleh Niu, Behar-Horenstein, dan Garvan mengenai intervensi pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis menunjukkan bahwa pembelajaran yang dirancang secara sengaja dapat meningkatkan kemampuan tersebut, meskipun hasilnya bervariasi dan membutuhkan proses.
Pesannya sederhana: nalar perlu dilatih terus-menerus.
- Dalam Bahasa Indonesia, peserta didik dapat menguji argumentasi sebuah teks.
- Dalam IPAS, mereka dapat membandingkan beberapa penjelasan terhadap suatu fenomena.
- Dalam Matematika, mereka dapat menjelaskan mengapa sebuah strategi bekerja.
- Dalam pendidikan karakter, mereka dapat memahami alasan di balik suatu nilai.
- Dalam kehidupan sekolah, mereka dapat belajar mengambil keputusan dan mempertanggungjawabkannya.
Ketika Nilai Menjadi Satu-satunya Tujuan
Bayangkan dua peserta didik.
Menguasai rumus, cepat mengenali pola soal, dan sangat terampil menghadapi ujian.
Mampu menghubungkan konsep, mencari informasi tambahan, menguji kemungkinan, dan menjelaskan alasan pilihannya.
Siapa yang lebih terdidik?
Pertanyaan itu tidak dapat dijawab hanya dengan melihat angka.
Bisa jadi peserta didik pertama memang memiliki penguasaan akademik yang sangat baik. Bisa jadi peserta didik kedua masih perlu memperkuat ketelitian dan dasar pengetahuannya.
Pendidikan tidak perlu mempertentangkan keduanya.
Tujuan kita adalah peserta didik yang menguasai pengetahuan sekaligus mampu menggunakan pikirannya.
Di Era AI, Pertanyaan Menjadi Sama Pentingnya dengan Jawaban
Kehadiran kecerdasan buatan membuat persoalan ini semakin mendesak.
Hari ini mesin dapat:
- meringkas teks;
- membuat soal;
- menghasilkan tulisan;
- menjelaskan konsep;
- menerjemahkan bahasa;
- serta menawarkan solusi terhadap berbagai persoalan.
Jika pendidikan hanya melatih anak menghasilkan jawaban yang juga dapat dihasilkan mesin dalam beberapa detik, kita perlu bertanya kembali:
apa kemampuan manusia yang sebenarnya sedang kita bangun?
Kemampuan manusia tidak berhenti pada memperoleh jawaban. Manusia harus mampu mempertanyakan jawaban tersebut.
Apakah benar? Apakah adil? Apakah konteksnya sesuai? Apa konsekuensinya? Data apa yang hilang? Siapa yang mungkin dirugikan? Adakah alternatif yang lebih baik?
Karena itu, kemampuan bernalar justru semakin penting ketika akses terhadap jawaban menjadi semakin mudah.
Dari “Berapa Nilainya?” Menjadi “Bagaimana Cara Kamu Berpikir?”
Perubahan pendidikan kadang tidak harus dimulai dengan kebijakan besar.
Ia dapat dimulai dari perubahan pertanyaan.
Ketika anak pulang membawa hasil ujian, kita tetap boleh menanyakan nilainya. Tetapi jangan berhenti di sana.
Pertanyaan-pertanyaan tersebut menyampaikan pesan penting: belajar bukan hanya tentang membuktikan bahwa kita sudah tahu.
Belajar juga berarti mengenali apa yang belum dipahami dan bersedia memperbaikinya.
Itulah salah satu bentuk kemandirian intelektual.
Sekolah Harus Menjadi Tempat Aman untuk Salah
Nalar sulit tumbuh di ruang yang terlalu takut terhadap kesalahan.
Jika setiap jawaban salah langsung dianggap sebagai kegagalan, peserta didik akan belajar mencari jawaban yang paling aman.
Mereka berhenti mencoba. Berhenti bertanya. Berhenti mengambil risiko intelektual.
Padahal banyak proses belajar bermula dari dugaan yang ternyata salah.
Kesalahan memberi guru kesempatan untuk melihat cara berpikir peserta didik.
Kalimat sederhana tersebut membedakan antara menghakimi hasil dan mendidik proses.
Pendidikan Harus Mempersiapkan Anak untuk Dunia yang Belum Kita Kenal
UNESCO melalui laporan Reimagining Our Futures Together: A New Social Contract for Education mengajak dunia untuk memikirkan kembali pendidikan dalam menghadapi perubahan teknologi, ketidakpastian sosial, persoalan lingkungan, dan tantangan kehidupan bersama.
Kita tidak mengetahui secara pasti jenis pekerjaan yang akan dijalani anak-anak hari ini dua puluh tahun mendatang.
Teknologi akan berubah. Informasi akan bertambah. Sebagian keterampilan teknis yang sekarang dianggap penting mungkin akan semakin mudah diotomatisasi.
Namun beberapa kemampuan akan tetap sangat berharga:
- kemampuan belajar kembali;
- menilai informasi;
- memahami konteks;
- memecahkan masalah;
- bekerja bersama;
- mengambil keputusan;
- dan mempertanggungjawabkan keputusan tersebut.
Semua itu membutuhkan nalar.
Cerdas Bukan Sekadar Banyak Tahu
Di Rumah Cermat, kecerdasan tidak dipahami sebatas kemampuan mengumpulkan informasi atau memperoleh nilai tertinggi. Gagasan ini berangkat dari kerangka Manifesto Rumah Cermat yang menempatkan kecerdasan, kemandirian, dan pengabdian sebagai satu kesatuan.
Ketiganya tidak dapat dipisahkan.
- Nalar tanpa pengetahuan mudah kehilangan pijakan.
- Pengetahuan tanpa nalar mudah diterima tanpa pemeriksaan.
- Kecerdasan tanpa kemandirian mudah bergantung.
- Kecerdasan tanpa pengabdian mudah kehilangan arah kemanusiaannya.
Pendidikan yang baik harus mempertemukan semuanya. Penjelasan lebih lengkap mengenai arah, visi, dan nilai yang menjadi dasar gerak Rumah Cermat dapat dibaca pada halaman Tentang Rumah Cermat.
Pada Akhirnya, Pendidikan Bukan Perlombaan Mengumpulkan Angka
Kelak, sebagian besar nilai ulangan yang pernah kita peroleh akan terlupakan.
Kita mungkin bahkan tidak lagi mengingat soal apa yang membuat kita mendapatkan angka 70, 85, atau 100.
Tetapi cara berpikir yang dibentuk selama bertahun-tahun dapat tinggal jauh lebih lama.
Kemampuan bertanya. Keberanian mengatakan “saya belum tahu”. Kebiasaan memeriksa informasi. Kesediaan mendengar alasan orang lain. Kemampuan mengubah pendapat ketika bukti berubah. Keberanian mengambil keputusan dan bertanggung jawab atas keputusan tersebut.
Itulah bekal pendidikan yang sesungguhnya.
Tujuan pendidikan bukan sekadar menghasilkan anak yang pandai menjawab pertanyaan yang sudah kita siapkan.
Tujuan yang lebih besar adalah membantu mereka menjadi manusia yang kelak mampu menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang bahkan hari ini belum kita ketahui.
Nilai tetap penting.
Tetapi jangan biarkan sebuah angka menjadi batas dari apa yang kita sebut keberhasilan belajar.
Referensi dan Bacaan Lanjutan
-
OECD. (2023).
PISA 2022 Assessment and Analytical Framework.
OECD Publishing, Paris.
DOI: 10.1787/dfe0bf9c-en.
OECD — PISA 2022 Assessment and Analytical Framework Kerangka asesmen PISA mengenai kompetensi, proses berpikir, dan penggunaan pengetahuan dalam konteks kehidupan. -
Van Damme, D., & Zahner, D. (Eds.). (2022).
Does Higher Education Teach Students to Think Critically?
OECD Publishing.
DOI: 10.1787/cc9fa6aa-en.
OECD — Does Higher Education Teach Students to Think Critically? -
International Commission on the Futures of Education. (2021).
Reimagining Our Futures Together: A New Social Contract for Education.
UNESCO.
UNESCO — Futures of Education Rujukan mengenai arah pendidikan masa depan, perubahan sosial, teknologi, dan tanggung jawab bersama. -
Niu, L., Behar-Horenstein, L. S., & Garvan, C. W. (2013).
“Do instructional interventions influence college students’
critical thinking skills? A meta-analysis.”
Educational Research Review, 9, 114–128.
DOI: 10.1016/j.edurev.2012.12.002.
Educational Research Review - Black, P., & Wiliam, D. (1998). Inside the Black Box: Raising Standards Through Classroom Assessment. Phi Delta Kappan. Kajian ini menjadi salah satu rujukan penting mengenai penggunaan asesmen formatif untuk mendukung proses pembelajaran.
-
Republik Indonesia. (2003).
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003
tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Basis Data Peraturan BPK RI Sumber resmi untuk Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. -
Pusat Asesmen Pendidikan, Kementerian Pendidikan.
Survei Karakter — Asesmen Nasional.
Pusat Asesmen Pendidikan